Tags

, , , , , , , , ,

Agama-agama di Arabia

(Sambungan)

Kepercayaan terhadap tanda-tanda yang memengaruhi kejadian di masa depan, pernah sangat biasa di kalangan suku-suku di Arabia. Hari-hari dan bulan-bulan serta hewan-hewan tertentu dianggap sebagai pertanda buruk. Mereka juga percaya bahwa arwah orang yang terbunuh akan bergentayangan dan tidak akan dapat beristirahat sampai terbalaskan dendamnya. Takhayul merajalela. Ketika rusa atau burung yang dilepaskan mengarah ke kanan, maka apa yang akan mereka lakukan dianggap penuh harapan, tetapi jika mengarah sebaliknya maka mereka menjadi pesimis dan menahan diri tidak melakukannya.[1]

Masyarakat pra-Islam, walaupun mempercayai takhayul, mereka masih mempertahankan tradisi Ibrahim, seperti mengagungkan Rumah Suci, bertawaf, berziarah/berhaji, berdiam (wukuf) di Arafah dan mempersembahkan kurban, kesemua hal ini masih tetap dilakukan walaupun adanya inovasi (bidah) yang mencemari ritual-ritual suci. Suku Quraisy misalnya, dengan keangkuhannya, rasa lebih unggul daripada suku-suku lainnya dan kebanggaan terhadap pemeliharaan Rumah Suci, tidak akan pergi ke Arafah bersama keramaian, tetapi mereka akan berhenti sebentar di Muzdalifah. Al-Quran menegur dan mengatakan kepada mereka:

ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ

Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (‘Arafah)[2:199][2]

Bidah lainnya yang sangat dalam mencengkeram tradisi sosial mereka, adalah larangan memakan yoghurt kering atau lemak masak, atau mereka tidak akan masuk ke dalam tenda yang dibuat dari rambut unta atau berteduh kecuali di rumah yang dibangun dengan bata kering, apabila mereka sedang berniat untuk ziarah (kondisi ihram haji). Mereka juga, karena kesalahpahaman yang parah, tidak membolehkan para peziarah selain orang-orang Makkah untuk mengambil makanan yang dibawanya ketika pergi berziarah haji maupun umrah.

Mereka memerintahkan para peziarah yang datang dari luar Makkah untuk mengelilingi (bertawaf di) Kabah dalam pakaian yang seragam dengan suku Quraisy, akan tetapi jika para peziarah itu tidak dapat memenuhinya, maka laki-lakinya melakukan tawaf dalam keadaan telanjang bulat, sedangkan perempuannya dengan sedikit kain yang menutupi kemaluannya. Allah berfirman akan hal ini:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah (dengan pakaian yang bersih) di setiap (memasuki) mesjid (dan bertawaf di Kabah).” [7:31]

Jika laki-laki atau perempuan itu cukup murah hati untuk melakukan tawaf di Kabah dengan pakaian mereka, maka mereka diharuskan melepaskannya setelah bertawaf untuk selamanya. [3]

(Bersambung, insya Allah)


[1] Sahih Al-Bukhari dengan catatan kaki oleh Ahmad Ali Saharanpuri, 2/851, 857
[2] Ibn Hisyam, 1/199; Sahih Al-Bukhari, 1/226
[3] Sahih Al-Bukhari, 1/226; Ibn Hisyam, 1/202

 

Advertisements