Tags

, , , , , , , , ,

Agama-agama di Arabia

(Sambungan)

Orang-orang Arab saat itu percaya bahwa para berhala, atau tuhan-tuhan mereka dapat mendekatkan mereka kepada Allah, membimbing mereka kepada Allah, dan menjadi perantara antara mereka dengan Allah, sebagaimana ayat Al-Quran menyebutkan:

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ ٌ

“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. [39: 3]

dan ayat:

وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللَّهِ ۚ

Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. [10: 18]

Ada tradisi keagamaan lainnya di kalangan orang-orang Arab yaitu mengundi Azlam (anak panah tanpa bulu yang terdiri dari tiga jenis: kesatu untuk menunjukkan “Ya”, yang kedua untuk “Tidak” dan yang ketiga kosong), yang digunakan oleh mereka pada hal-hal yang serius seperti bepergian, pernikahan, dan sebagainya. Jika undian keluar “Ya”, maka akan mereka jalankan, jika yang keluar “Tidak”, maka mereka akan menunda ke tahun depan. Jenis lainnya dari Azlam adalah mengundi air, uang-darah atau menunjukkan “Dari kamu”, “Bukan dari kamu”, atau “Mulsaq” (campuran). Dalam hal mereka meragukan tentang hubungan darah mereka akan mendatangi berhala Hubal, dengan persembahan seratus ekor unta, untuk mengundi anak panah. Hanya anak panah yang akan memutuskan bagaimana hubungan darah tersebut. Jika anak panah menunjukkan “Dari kamu”, maka diputuskan si anak merupakan bagian suku tersebut; jika “Dari lainnya” maka si anak dianggap sebagai sekutu, tetapi jika “Campuran” yang muncul, maka si anak tetap pada posisinya tetapi tidak memiliki hubungan darah maupun persekutuan. [1]

Hal ini sama saja dengan berjudi dan mengundi anak panah yang  mana mereka gunakan untuk membagi daging unta yang disembelih menurut tradisi tersebut.

Lebih jauh lagi, mereka memiliki keyakinan terhadap berita-berita yang dikabarkan oleh para peramal, dukun dan ahli nujum. Seorang peramal biasanya melakukan meramalkan kejadian di masa depan dan mengaku memiliki pengetahuan rahasia serta memiliki bantuan jin yang menyampaikan kabar-kabar kepadanya. Beberapa peramal mengaku bahwa mereka dapat membuka tabir melalui kekuatan yang didapat, sedangkan dukun membual mereka dapat mengetahui rahasia melalui proses induksi sebab dan akibat, sehingga dapat membantu menemukan barang yang hilang, lokasi pencuri, hewan yang tersesat, dan sebagainya. Ahli nujum adalah kategori ketiga yang biasa memperhatikan perbintangan dan menghitung pergerakan bintang serta orbitnya sehingga dia dapat memprediksi masa depan. [2] Mempercayai berita-berita ini menjadi petunjuk bagi keyakinan mereka bahwa ada hubungan khusus yang sangat signifikan antara pergerakan bintang tertentu dengan musim penghujan.[3]

(Bersambung, insya Allah)


[1] Muhadrat Tarikh Al-Umam Al-Islamiyah, 1/56; Ibn Hisyam, 1/152, 153.
[2] Mirqat Al-Mafatih, 2/2, 3.
[3] Syarah Sahih Muslim, An-Nawawi, 1/59

Advertisements