Tags

, , , , , , , , ,

Agama-agama di Arabia

(Sambungan)

  • Membuat-buat aturan terhadap berhala melalui persembahan nazar berupa tanaman dan hewan ternak, sebagaimana disebut di dalam Al-Quran:

وَقَالُوا هَٰذِهِ أَنْعَامٌ وَحَرْثٌ حِجْرٌ لَّا يَطْعَمُهَا إِلَّا مَن نَّشَاءُ بِزَعْمِهِمْ وَأَنْعَامٌ حُرِّمَتْ ظُهُورُهَا وَأَنْعَامٌ لَّا يَذْكُرُونَ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا افْتِرَاءً عَلَيْهِ ۚ

“Dan mereka mengatakan: “Inilah hewan ternak dan tanaman yang dilarang; tidak boleh memakannya, kecuali orang yang kami kehendaki”, menurut anggapan mereka, dan ada binatang ternak yang diharamkan menungganginya dan ada binatang ternak yang mereka tidak menyebut nama Allah waktu menyembelihnya, semata-mata membuat-buat kedustaan terhadap Allah.” [6:138]

  • Mengkhususkan hewan-hewan tertentu (seperti Bahira, Saiba, Wasila dan Hami) kepada berhala-berhala, dalam arti menyisihkan hewan-hewan tertentu dari beban kerja untuk dipersembahkan kepada tuhan-tuhan ini. Bahira, menurut sejarawan ternama Ibn Ishaq, adalah anak betina Saiba yaitu unta betina yang telah melahirkan sepuluh unta betina, tetapi tidak ada yang jantan, dibebaskan dan terlarang untuk dibelenggu, ditunggangi, atau dicukur bulunya, atau diperah susunya (kecuali untuk tamu-tamu); dan begitu seterusnya kepada semua keturunan betinanya disebut Bahira, setelah telinganya dilukai. Wasila adalah domba betina yang telah melahirkan sepuluh domba betina dalam lima kali bunting. Setiap kelahiran baru dari Wasila hanya boleh diberikan kepada kaum pria. Hami adalah unta jantan yang menghasilkan sepuluh unta betina, dan juga sama-sama terlarang. Ayat Al-Quran menyebutkan:

مَا جَعَلَ اللَّهُ مِن بَحِيرَةٍ وَلَا سَائِبَةٍ وَلَا وَصِيلَةٍ وَلَا حَامٍ ۙ وَلَٰكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۖ وَأَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

“Allah sekali-kali tidak pernah mensyari’atkan adanya bahiirah[1], saaibah[2], washiilah[3] dan haam[4]. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti.” [5:103]

Dan firman Allah:
وَقَالُوا مَا فِي بُطُونِ هَٰذِهِ الْأَنْعَامِ خَالِصَةٌ لِّذُكُورِنَا وَمُحَرَّمٌ عَلَىٰ أَزْوَاجِنَا ۖ وَإِن يَكُن مَّيْتَةً فَهُمْ فِيهِ شُرَكَاءُ ۚ

“Dan mereka mengatakan: “Apa yang ada dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria kami dan diharamkan atas wanita kami,” dan jika yang dalam perut itu dilahirkan mati, maka pria dan wanita sama-sama boleh memakannya.” [6:139]

Telah dilaporkan secara sahih bahwa bentuk-bentuk takhayul tersebut pertama kali diciptakan oleh Amr bin Luhai. [5]

(Bersambung, insya Allah)

 


[1] Unta betina yang susunya diperuntukkan kepada berhala dan tidak seorang pun boleh meminumnya
[2] Unta betina yang dipersembahkan kepada berhala dan tidak boleh dibebani apapun.
[3] Unta betina yang dipersembahkan kepada berhala karena telah melahirkan unta betina pada kelahiran pertama dan juga melahirkan unta betina pada kelahiran kedua.
[4] Unta jantan yang dibebaskan dari beban kerja untuk dipersembahkan kepada berhala, setelah menyelesaikan beberapa perkawinan. Hewan-hewan ini dibebaskan sebagai persembahan kepada berhala sebagaimana dipraktikkan oleh kaum musyrikin Arab sebelum masa Islam.

[5] Sahih Al-Bukhari, 1/499

Advertisements