Tags

, , , , ,

PEMERINTAHAN DAN KERAJAAN DI ARAB

(Sambungan)

Pemerintahan di Hijaz:

Ismail alaihi salam menjalankan kekuasaan di Makkah sebagaimana dia menjadi pemelihara tempat suci sepanjang hidupnya. Pada saat wafatnya di usia 137 tahun, dua orang anaknya, Nabet dan Qidar, menggantikan beliau. Kemudian, kakek mereka dari pihak ibu, Mudad bin ‘Amr Al-Jurhumi mengambil alih, sekaligus menyerahkan pemerintahan Makkah kepada kabilah Jurhum, melestarikan posisi terhormat walaupun dengan sedikit kewenangan kepada anak-anak Ismail sebagai penghargaan atas jasa ayah mereka dalam membangun tempat suci, sebuah posisi yang tetap mereka pegang hingga kemunduran kabilah Jurhum sesaat sebelum munculnya Bukhtanassar (Nebukadnezar II). [1]

Peran politis Bani Adnan mulai mendapat pijakan yang lebih kuat di Makkah, yang mungkin dapat dibuktikan kebenarannya dengan fakta bahwa pada saat invasi pertama Bukhtanassar ke Arabia di Dzati Irq, pemimpin Arab bukanlah berasal dari Jurhum. [2]

Pada invasi kedua Bukhtanassar tahun 587 SM, bagaimanapun Bani Adnan tersingkir ke arah Yaman, sementara itu Burmia An-Nabi kabur ke Syam bersama Ma’ad, tetapi ketika tekanan Bukhtanassar melemah, Ma’ad kembali ke Makkah dan mendapati tidak satupun suku Jurhum yang tersisa kecuali Jursyam bin Jalhamah, yang putrinya, Mu’ana, kemudian diperistri oleh Ma’ad, dan memberi seorang anak laki-laki bernama Nizar. [3]

Dengan kondisi kehidupan yang susah dan kemelaratan yang merata di Makkah, kabilah Jurhum mulai memperlakukan dengan buruk para peziarah tempat suci dan merampok harta mereka, yang menyebabkan dendam dan kebencian Bani Adnan (anak laki-laki Bakr bin Abd Munaf bin Kinanah) yang mendapat bantuan dari suku Khuza’ah yang tinggal di daerah tetangga, Marr Az-Zahran, menyerang Jurhum dan mengusir mereka keluar Makkah, sehingga pemerintahan jatuh di tangan Quda’ah pada pertengahan abad kedua masehi.

Ketika meninggalkan Makkah, suku Jurhum menutup sumur Zamzam, meratakan permukaannya dan mengubur banyak barang berharga di dalamnya. Ibn Hisyam, sejarawan ternama, meriwayatkan bahwa Amr bin Al Harits bin Mudad Al-Jurhumi, menguburkan dua buah kijang kencana berikut Hajar Aswad (batu hitam) dan banyak perhiasan serta pedang di dalam Zamzam, sebelum pelarian mereka yang memilukan ke Yaman. [4]

Zaman Ismail diperkirakan berlangsung pada dua puluh abad sebelum masehi, yang artinya Jurhum tinggal di Makkah selama dua puluh satu abad dan memerintah di sana selama dua puluh abad.

Setelah kekalahan Jurhum, suku Khuza’ah memonopoli pemerintahan di Makkah. Suku Mudar, bagaimanapun, mendapatka tiga keistimewaan:

Pertama: Memimpin peziarah dari Arafat ke Muzdalifah kemudian dari Mina ke Jumrah (tiah melempar batu) Aqabah. Ini menjadi kewenangan keluarga Al Ghawts bin Murra, salah satu kabilah Elias bin Mudar yang disebut Sofa. Hak istimewa ini berarti para peziarah tidak diizinkan memulai melempar batu di Al Aqabah sebelum orang-orang Sofa melakukannya. Setelah mereka melempar batu dan hendak meninggalkan lembah Mina, orang-orang Sofa berdiri di kedua sisi Al-Aqabah dan tak seorangpun dapat melaluinya hingga orang-orang Sofa melewatinya dan membuka jalan bagi para peziarah. Ketika Sofa binasa, Banu Sa’d bin Zaid Manat dari suku Tamim menggantikannya.

Kedua: Al-Ifadah (meninggalkan Mina dari Muzdalifah) pada pagi hari kurban, dan ini menjadi tanggung jawab keluarga Adwan.

Ketiga: Penangguhan bulan haram, dan ini menjadi tanggung jawab keluarga Tamim bin A’di dari Bani Kinanah.

Kekuasaan Khuza’ah di Makkah berlangsung selama tiga ratus tahun, pada saat itu Bani Adnan menyebar ke seluruh Najd dan perbatasan Bahrain dan Iraq, sementara beberapa kabilah Quraisy tetap tinggal di dekat Makkah; yaitu Haloul, Harum dan beberapa keluarga Kinanah. Mereka tidak mendapatkan hak istimewa di Makkah ataupun di Rumah Suci hingga kemunculan Qusai bin Kilab, yang menurut kisah ayahnya meninggal ketika dia masih bayi, lalu ibunya dinikahi oleh Rabi’a bin Haram, dari suku Bani Udhra. Rabi’a mengajak istri dan bayinya ke kampung halamannya di perbatasan Syam. Ketika Qusay beranjak dewasa, ia kembali ke Makkah yang diperintah oleh Halil bin Habsya dari Khuza’ah yang kemudian menikahkan Qusay dengan putrinya, Hobba. Setelah kematian Halil, pecahlah perang antara Khuza’ah dengan Quraisy dan membuat Qusay mengambil kepemimpinan Makkah dan Rumah Suci. [5]

(Bersambung, insya Allah)


[1] Ibn Hisyam, 1/111
[2] Qalb Jaziratul Arab, p. 230
[3] Rahmat-ul-lil’alamin, 2/48
[4] Ibn Hisyam, 1/114, 115
[5] Ibn Hisyam, 1/117

Advertisements